Cari

Kerjasama PT Hutahaean dan Toluto Tingkatkan Pendapatan Petani Taput

Posted 06-02-2015 02:24  » Team Tobatabo

Petani ubi kayu di Kabupaten Tapanuli Utara mendapat angin segar seiring pemberlakuan harga baru untuk komoditi tersebut oleh  PT Hutahaean. Perusahaan  pabrik tapioka di Bahal Batu Siborongborong tersebut mematok harga Rp 950/Kg.  Sebelumnya hanya Rp 600/Kg ditetapkan para penampung dari petani.

Pemilik perusahaan, St HW Hutahaean menuturkan kehadirannya di Bona Pasogit Tapanuli Utara bukan semata bisnis berorientasi untung, tetapi lebih cenderung membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan.

Hal itu disampaikan saat datang bersama istri Br Nainggolan berselamat tahun baru kepada Torang Lumbantobing (Toluto) bersama istri Br Manalu di kediaman pribadinya di Tarutung, Senin (2/2).

Disampaikan bahwa dulu tidak pernah terpikirkannya berinvestasi di Taput apalagi untuk bisnis tapioka karena diketahui tidak akan memberikan untung besar dibandingkan dengan sawit, tapi karena bujukan Toluto yang saat itu Bupati Taput, akhirnya dibangunlah pabrik tapioka.

“Awalnya tantangan sangat berat, masyarakat kurang percaya kalau kami benar-benar mau berinvestasi. Namun karena semangat amang Tobing yang begitu tinggi hingga turun langsung bersama kami meninjau lahan-lahan, maka keputusan investasi pun kami lakukan,” ucapnya.

Pengusaha sukses di Riau yang mengelola kebun sawit, hotel dan golf  ini menilai, kalau hanya dirinya yang dipikirkan Toluto, maka tidak mungkin mau turun langsung ke masyarakat dan ngotot meminta pihaknya berinvestasi. 

Kini menurutnya kerjasamanya bersama Toluto telah membuahkan hasil kepada petani berhubung perusahaan sanggup membeli ubi kayu dari petani Rp 950/Kg, yang otomatis  meningkatkan pendapatan petani. 

Toluto juga mengakui bahwa pihaknya benar-benar membujuk HW Hutahaean agar berinvestasi di Taput mendukung kemajuan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kami selaku bupati saat itu melihat bagaimana masyarakat petani tidak mempunyai pendapat memadai. Sementara lahan tidur juga sangat luas. Hal itu akibat tidak adanya pasar yang secara pasti dapat menampung hasil produksi petani, Karenanya kami berpikir, harus ada dulu pasar yang menampung hasil pertanian, makanya kami membujuk amang Hutahaean berinvestasi,” sebutnya

 

Sumber

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah