Cari

Kisah Parlindoengan Loebis Orang Batak Pertama Yang Masuk Kamp Konsentrasi Nazi 1941

Posted 23-02-2017 00:39  » Team Tobatabo

Kekuasaan Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler sudah terkenal kebuasannya sentero dunia. Tapi tahukah kalian, bahwa ada orang Batak yang pernah lolos dari penyiksaan rezim fasis anti-Yahudi tersebut.

Dia adalah Parlindoengan Loebis. Tidak hanya orang Batak, dia barangkali orang Indonesia pertama yang masuk kamp konsentrasi Nazi dan akhirnya selamat.

loading...

Seperti tertulis dalam otobiografinya ‘Orang Indonesia dalam Kamp Konsentrasi NAZI’ (2007), Parlindoengan mengatakan, dia berada selama 4 tahun dalam kamp penyiksaan tersebut, sejak ditangkap oleh polisi rahasia Belanda binaan Gestapo, di Amsterdam pada Juni 1941.

Parlindoengan, yang di Belanda bertugas sebagai dokter, ditangkap karena dianggap sebagai pemberontak. Maklum saja, meski akrab dengan ideologi kiri, pria kelahiran  Batang Toru, Tapanuli Selatan 30 Juni 1910 ini sangat anti-fasis.

Aku dimasukkan ke sebuah sel yang telah dihuni oleh tiga orang. Besar ruangan itu tiga kali tiga meter dan mempunyai dua tempat tidur besi tanpa kasur…. Dalam ruangan itu ada sebuah lubang di mana kami dapat buang air kecil dan besar. Lubang itu ditutup dengan sebilah kayu saja. Siapa yang tidur dekat lubang itu akan mencium bau yang amat busuk,” tulisnya.

Empat tahun dalam penyiksaan, empat kali pula Parlindoengan pindah kamp, yakni Kamp Schoorl dan Amersfoort di Belanda, serta Buchenwald dan Sachsenhausen di Jerman.

“Untuk dapat survive dalam kamp, aku pertama-tama harus mempunyai hati yang keras dan tanpa rasa, seperti batu. Segala perasaan yang sentimental dan cengeng harus dibuang jauh-jauh… Masa lampau sekali-kali jangan dikenang. Masa yang akan datang jangan diharapkan. Hiduplah untuk hari ini saja,” kenangnya.

parlindungan lubis orang batak lolos dari nazi

Parlindoengan tidak berlebihan, sebab dia dan para tawanan lain harus melakukan kerja paksa. Seperti apa?’

Mereka harus membuka hutan di suatu pegunungan berkabut, memecah batu, membuat barak, saluran air, listrik, bengkel, dan lain-lain.

Semua itu dilakukan selama 7 hari seminggu, 14 jam sehari. Tawanan sering dipukuli, bahkan hingga mati. Bahkan, kawanan yang ketahuan mengobrol akan ditembak tanpa ampun.

Dengan pekerjaan super berat itu, para tawanan hanya mendapat jatah makanan sangat minim. 

“Pagi-pagi dapat roti kurang-lebih 400 gram, bubur dan kopi pakai gula kurang-lebih 400 cc. Kopi yang diberikan itu sebenarnya bukan kopi, melainkan dibuat dari sejenis padi,” tulis Parlindoengan.

loading...

Di Buchenwald, yang menjadi kamp terakhirnya, Parlindoengan memperkirakan bahwa tidak mempunyai harapan lagi untuk dibebaskan, kecuali Jerman dikalahkan Sekutu dalam perang. 

“Aku harus siap untuk ditawan beberapa tahun. Itu pun kalau aku tidak terbunuh,” tulisnya.

Bagaimana Parlindoengan akhirnya lolos?

Perkiraan Parlindoengan itu menjadi kenyataan. Pada 1944, pasukan Sekutu datang menyerbu lewat udara dan membuat kamp Buchenwald hancur.

Seketika terjadi kekacauan dalam kamp. Parlindoengan dan tawanan lain berhasil melarikan diri, meski tidak sedikit pula yang ditembak mati saat kabur.

Singkat cerita, Parlindoengan berhasil kembali ke rumahnya di Belanda dan akhirnya kembali ke Indonesia usai Perang Dunia II.

Di Indonesia, Parlindoengan hidup berpindah-pindah. Selama 1947-1950, dia menetap di Yogyakarta dan berkerja sebagai Kepala Dinas Kesehatan Pabrik-pabrik Persenjataan Departemen Pertahanan.

Dia bekerja sebagai dokter perusahaan Borneo Sumatra Handel Maatschappij di Jakarta, sambil sore harinya membuka praktik dokter di rumah dinasnya di kawasan Kebayoran Baru.

Kemudian, pada 1959 dia hijrah ke Tanjungpandan, Belitung dan bekerja sebagai dokter di pertambangan timah di sana.

Pada 31 Desember 1994 di Jakarta, Parlindoengan meninggal dunia. Nyaris tanpa perhatian dari negeri ini.

Dikutip dari berbagai sumber

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah