Cari
 Wisata
 Diposting 27-07-2018 12:25

Mengenal Sosok, Profil dan Sejarah Perjuangan Djamin Ginting Lewat Museum Jendral Ini

Foto Caption: Pengunjung di Museum Djamin Ginting

Tanah Karo memang tidak ada habisnya merebut hati para wisatawan. Selain alam nan elok, pegunungan yang molek, daerah tersebut juga menawarkan wisata sejarah. Bila anda ingin melakukan napak tilas sejarah, tak ada salahnya mengunjungi tempat yang satu ini.

Terletak di Simpang tiga Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Tanah Karo, berdiri tegak tempat yang mengabadikan salah seorang tokoh masyarakat Karo yang melegenda, Letnan Jenderal Djamin Ginting.

Bila anda datang ke museum tersebut, anda akan disambut patung Sang Jenderal dari perunggu yang berdiri teguh setinggi tujuh meter. Patung Pahlawan Nasional itu gagah berdiri di atas tank meriam, dengan latar belakang kain tradisional karo yang disebut 'Beka Buluh'.

"Di sana, di lantai atas semuanya tentang Letjen Jamin Gintings. Museum ini terdiri atas dua lantai. Lantai bawah berisi hasil kerajinan tangan khas masyarakat Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Tanah Karo. Sedangkan pada lantai dua museum merupakan kisah perjalanan Letjen Djamin Ginting," ujar Sang Resepsionis, Nila kepada redaksi, Kamis (26/7/2018).

Pantauan tribun-medan.com, bila anda ingin ke lantai dua, maka anda harus menapaki 20 anak tangga yang berkelok. Di anak tangga ke 17, terlihat sosok Sang Jenderal dalam potret buram hitam putih.

Sepanjang perjalanan mengelilingi museum itu kita akan disuguhkan foto bergambar yang seakan bercerita. Perpustakaan pada sisi kanan dan kiri, seragam kebesaran jabatan di masa itu hingga piagam dan pin yang dikacakan. Tak jarang terlihat para wisatawan mengambil berbagai sudut guna berselfie ria.

Anda tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk masuk ke tempat istimewa ini.

"Tiket masuknya Rp 5 ribu per orang," ujar Nila.

Nila menyampaikan, museum tersebut juga menyediakan fasilitas bagi pengunjung yang menggunakan kursi roda. Baginya tempat tersebut memberi arti positif bagi masyarakat Tanah Karo. Khususnya bagi para pelajar di Tanah Karo.

Hari ini saja, kata Nila, setidaknya ada 200 pengunjung yang berasal dari salah satu SD di Tanah Karo. Selain itu museum ini juga kerap dikunjungi muda-mudi Tanah Karo.

“Selama ini mereka hanya tahu melihat buku atau internet, namun tidak sedetil yang ada di museum ini,” katanya.

Hal tersebut juga diakui sejoli yang mengunjungi tempat tersebut yakni Amanda dan Brian. Pasangan yang berasal dari Kota Medan itu sengaja datang ke museum ini karena penasaran dengan isi museum.

“Kami berangkat sejak pukul 09.00 dari Medan, setelah jalan-jalan di kawasan Brastagi kami datang kesini. Untung masih buka. Kawan-kawan kerap bercerita tentang museum ini. Ada yang bilang tentang bentuk bangunannya yang unik seperti kulit kacang, ada juga yang bercerita tentang isi museum itu. Jadi kami ingin tahu,” ucap Brian.

Bagi para pelancong, tak sulit untuk mengetahui sejarah museum ini.

Sang resepsionos menerangkan, sejak diresmikannya pada 7 September 2013, museum ini mengacakan lembaran-lembaran pidato tatkala peresmian museum berlangsung.

"Diletakkan bersamaan dengan dokumen penting milik Letjen Jamin Gintings. Museum ini didirikan pada 2013 oleh Yayasan Mahaputra Utama DJamin Ginting yang diketuai oleh Ny. L.T Djamin Ginting," katanya.

Nila menjelaskan,berdiri di atas tanah seluas 4000 meter persegi (m2), selain sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang peninggalan Letjen Jamin Gintings. Museum ini berguna melestarikan dan mewariskan nilai-nilai, jiwa dan semangat juang 45 dalam merebut kemerdekaan.

"Persis dengan semboyan ‘Merdeka atau Mati’. Museum ini juga dimaksudkan untuk turut melestarikan sejarah, adat, seni dan budaya termasuk tersedianya perpustakaan mini berisi buku-buku peninggalan Letjen Djamin Ginting dan buku-buku adat Karo," katanya.

Amatan tobatabo, bentuk bangunan museum ini juga tak biasa. Bentuknya mirip kulit kacang.

Menurut informasi yang tertulis dalam lembara pidato Ketua Yayasan, diungkapkan bangunan museum seluas 600 m2 dengan bentuk biji-bijain (kacang) dengan tiang-tiang merah sebagai akarnya. Bentuk itu memiliki makna hasil perjuangan Letjen Djamin Ginting bukanlah akhir tujuan tapi merupakan benih kehidupan baru yang merdeka bagi generasi berikutnya, ditunjang dengan semangat keberanian dalam meraih masa depan.

Yang tak kalah menariknya yakni cerita bergambar di dinding museum. Tertulis di sana tentang petikan dan kelakar Ibu Likas Tarigan, Ny. Djamin Ginting, yakni soal bambu dan karet.

 Diceritakan pada dinding tersebut sungguh besar jasa bambu. Bukan hanya rumah, tempat tidur dan meja. Dalam agresi belanda II bambu dipakai sebagai sarana mengirim pesan dari Komando Sumatera kepada Resimen I.

Kisah karet pada dinding tersebut juga lebih mencengangkan lagi.

Diceritakan, pada saat revolusi,para pejuang kesulitan mendapatkan BBM untuk kendaraan. Sebagai penggantinya dengan mendirikan kilang minyak karet di Macan Kumbang.

"Getah karet dari perkebunan karet diolah menjadi BBM. Caranya lembaran-lembara karet yang sudah dikeringkan di ruangan pengasapan kemudian disuling dan disimpan ke dalam tong atau drum. Kilang minyak karet tersebut dikepalai oleh Letnan Azis Saman, didukung sejumlah perwira dan tentara serta 60 orang warga sipil yang berasal dari kalangan pengungsi," bunyi tulisan pada literatur tersebut.

Pada museum itu kita juga dapat mengetahui sumbangsih non tempur yang diupayakan Sang Jenderal kala menjabat sebagai Komandan Resimen I. Salah satunya adalah pembukaan hutan untuk lahan pertanian di sekitar Lawa Deski dan usaha ternak ikan dan bebek di Lawa Deski, Sigala-gala, Lawe Gersik, Lawe Dua dan Buluhbiang.

Sang Jenderal juga menginisiasi pembuatan sagu untuk menambah jenis bahan makanan dan mengurangi konsumsi beras yang sulit didapat.

Sang Pahlawan Nasional itu juga mendirikan SMP untuk pertama kalinya seluruh Tanah Alas, diasuh oleh guru-guru yang diambil dari kalangan perwira tentara dan beberapa guru yang berada di Kutacane atau di tempat lain di Tanah Alas.

Penasaran? Tunggu apalagi, Bung Karno pernah berikrar jangan sekalipun melupakan sejarah. Maka, Museum Djamin Ginting akan menawarkan wisata sejarah yang dashyat kepada anda.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah