Cari

Antara Sidikalang dan Tele

Posted 26-01-2012 14:23  » Team Tobatabo

Heran, di Medan tidak banyak orang yang antusias dengan Danau Toba. Danau terbesar di Asia Tenggara itu menyimpan gambaran "kotor", "penuh keramba", hingga "hutan yang sudah gundul". Seorang guru SMA mengatakan, pelayanan warga kepada wisatawan di Parapat tidak bagus. Orang membeli mangga bisa kena tipu. Untunglah seorang kawan berkata, "Danau Toba itu luas, kita masuk dari sisi lain."

Kata-kata itu menguatkan niat kami, apalagi ditambah kenangan tentang idola masa kecil, Julius Sitanggang, yang suaranya masih terngiang-ngiang di telinga: Danau Toba… oh Danau Toba… danau indah dan permai…. Berangkat hari Minggu pagi, dari Medan kami menuju Sidikalang, Kabupaten Dairi, untuk bertemu beberapa teman. Setelah itu menuju Tele, salah satu sudut terbaik untuk melihat Danau Toba. Di Sidikalang, kami mendapat informasi keberadaan danau di atas Danau Toba, danau di Pulau Samosir.

loading...

Danau Sidihoni namanya. Sebuah imaji yang menjadi cita-cita perjalanan ini. Perjalanan kami lanjutkan setelah sempat bimbang melihat beberapa truk mengangkut durian Sidikalang yang tersohor itu. Beli… tidak... beli... tidak…. "Ada juga kok di Medan, malah sudah dibungkus kotak plastik, berlapis-lapis, siap masuk ke pesawat," kata Maringan S Pardede, warga Sidikalang. Jalan antara Sidikalang dan Tele melewati perkebunan kopi dan jeruk, berselang-seling dengan padang tempat kuda merumput di samping anak-anak yang bersuka ria, bercanda sambil mandi-mandi di air yang jernih.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 lewat, saat sesekali, sedikit demi sedikit, Danau Toba menampilkan dirinya, di antara perbukitan. Suasana jadi misterius sekaligus puitis. Tele adalah salah satu sudut terbaik bagi umum untuk melihat Danau Toba. Sebuah menara pandang berdiri di sudutnya. Di sisi kiri tampak Gunung Pusuk Buhit, gunung mitologi Batak, yang diselimuti kabut dan awan. Di sisi kanan beberapa air terjun dari tebing Danau Toba mengalir. Di depan menara, Danau Toba terbentang. Hujan rintik-rintik turun, dingin, tetapi tak menusuk.

Beberapa orang yang datang ke Tele sering bergumam, Tele mengingatkan mereka pada pegunungan dalam film Lords of the Ring. Hari itu jalan dari Tele ke Pulau Samosir yang menuruni bukit tengah diperlebar. Keamanan pengendara jadi taruhan. Tebing batu di sisi kiri rawan longsor, sementara jurang puluhan meter menganga di sebelah kanan. Jalanan bergeronjal, rusak. Sayang, keindahan Danau Toba menyembunyikan maut akibat infrastruktur yang buruk.

Sumber

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah