Cari
 Kriminalitas
 Diposting 25-10-2018 17:22

Kronologi Firhot Penggal Korban Dan Serang Kapolsek Hingga Tewas Dihakimi Massa Yang Geram

Foto Caption: Kapolsek Parongil, AKP Sayuti Malik sesaat akan dibawa ke IGD RSUD Sidikalang pascaditurunkan dari ambulans pada Rabu (24/10/2018) malam. (TRIBUN MEDAN/MUSTAQIM INDRA JAYA)

SIDIKALANG - Firhot Nababan (42) warga Dusun Lae Sulfi, Desa Lae Ambat, Silima Pungga-pungga, Dairi yang merupakan pelaku pembunuhan terhadap Rimson Sitorus dikenal sebagai pria yang temperamental.

Usai memenggal kepala tetangganya itu, Firhot mengamuk saat hendak ditangkap. Dia menyerang Kapolsek Parongil, AKP Sayuti Malik.

Sang polisi ini ditikam dua kali. Masing-masing di bagian tangan dan dada.

Menghadapi sosok yang kian beringas ini, warga terpaksa melumpuhkan Firhot dengan mengeroyoknya beramai-ramai. Hingga membuat dirinya terkapar hingga dilaporkan juga tewas.

Menurut Kepala Desa Lae Ambat, Manimpan Sitorus, akibat sifat pemarahnya itu, Firhot dikenal sebagai pribadi yang sulit bergaul dengan warga desa setempat.

Begitu juga dengan warga, tak terlalu senang dengan kepribadian ayah yang diketahui memilik empat anak perempuan tersebut.

korban penggal kepala di sidikalang

Suasana rumah duka korban keganasan Firhot Nababan, Rimson Sitorus yang berada di Lae Ambat, Silima Pungga-pungga, Dairi pada Kamis (25/10/2018). Dilokasi ini juga Firhot Nababan mengekseskusi korban hingga tewas mengenaskan. (TRIBUN MEDAN / MUSTAQIM INDRA JAYA)

"Kesehatan pelaku sehari-hari normal. Memang itu, suka emosional orangnya. Jadi hubungan sama tetangga pun kurang baik," kata Manimpan, Kamis (25/10/2018).

Manimpun menjelaskan bahwa Firhot dan keluarganya merupakan warga pendatang yang berasal dari Siborong-borong, Taput.

Kesehariannya Firhot bekerja sebagai petani dan juga memiliki warung di rumah miliknya.

"Dia ini pendatang, bukan warga asli sini. Memang sudah belasan tahun lalu. Keseharian bertani dan keluarganya ada buka kedai sampah di rumahnya," ungkapnya.

Ia pun mengakui bahwa hubungan Firhot dengan Rimson Sitorus pernah kurang harmonis sekitar dua tahun lalu, terkait masalah batas tanah tempat tinggal mereka yang bersebelahan.

Namun, setelah dilakukan mediasi, akhirnya permasalahan itu pun terselesaikan.

"Tahun 2016 keduanya pernah berselisih paham soal tanah. Tapi sudah selesai itu. Bahkan keduanya sering ketemu nyanyi sama, minum-minum di rumah Rimson yang buka warung tuak. Pas dengar kerjadian kemarin terkejut juga, nggak tau lagi apa masalahnya," ucapnya.

Bahkan pascaperistiwa pembunuhan itu, Manimpun mendatangi langsung Firhot, yang saat itu tengah berdiri di depan rumahnya sambil menenteng parang dan pisau.

Ketika ditanyai, Firhot tak merespon sama sekali.

"Jadi setelah ditelpon ada kejadian, saya langsung ke TKP. Bahkan saya datangi langsung Firhot walau masih pegang parang sama pisau, jarak kami hanya sekitar satu meter. Saya tanya, apa yg kamu lakukan? Nggak dijawabnya. Saya tanya lagi katanya bunuh orang? Siapa? Tetap nggak direspon. Karena mimik wajahnya mulai berubah saya tinggalkan sambil menunggu kapolsek," jelasnya.

Hingga akhirnya AKP Sayuti Malik tiba dilokasi dan sempat bernegosiasi dengan pelaku.

Firhot sempat membuang satu senjata tajamnya, yang kemudian coba menangkap pelaku.

Tanpa diduga pelaku menyerang AKP Sayuti dengan menggunakan pisau dan mengenai tangan dan dada kirinya.

Sayuti pun tak tinggal diam dan langsung mengeluarkan senjata dan coba menembak kaki pelaku.

Namun sayang, tembakan yang diletuskan oleh Kapolsek itu ternyata peluru hampa hingga membuat pelaku menyerang kerumunan massa kembali.

Warga yang geram kemudian memukuli Filhot Nababan hingga membuatnya terkapar.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah