Cari

3 Fakta Kronologi 16 Mahasiswa Korban Longsor di Berastagi-Karo, 7 Tewas dan 9 Luka-luka

Posted 03-12-2018 15:36  » Team Tobatabo
Foto Caption: Lokasi pemandian Berastagi Kabupaten Karo longsor. 7 Mahasiswa tewas.

Belasan mahasiswa dari Universitas Prima Indonesia Medan, mengalami kejadian nahas di lokasi pemandian air panas, di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Minggu (2/12/2018) sekira pukul 06.00 WIB pagi.

Mereka merupakan ikatan mahasiswa Karo, yang sedang mengadakan malam keakraban (makrab), di pemandian Daur Paris.

Saat itu tembok penahan tanah yang berada tepat di belakang joglo tempat mereka beristirahat tiba-tiba ambruk.

Berikut kronologinya yang dihimpun tim di lapangan.

1. Kesaksian korban selamat

Keterangan dari seorang mahasiswa bermarga Ginting, yang korban selamat mengaku tepat sebelum kejadian dirinya bersama tiga rekannya belum tertidur.

Sehingga mengetahui persis, bagaimana tanda-tanda sebelum tembok tersebut menimpa rekan satu perkumpulan itu.

Ia mengungkapkan, posisi mereka kala itu sedang beristirahat dan membelakangi tembok.

Tepat sebelum tembok tersebut runtuh, dirinya mendengar ada tanda-tanda seperti suara bergemuruh.

"Kalau tanda-tandanya kami dengar ada suara seperti reruntuhan rumah gitu. Setelah itu, kami pun panik terus kami semua lari berpencar. Saya pun sempat jatuh juga," ujarnya.

Dengan diselimuti perasaan yang panik, dirinya mengungkapkan, sampai tidak bisa membangunkan teman-temannya yang lain untuk ikut menyelamatkan diri.

Suara jeritannya pun bersamaan dengan runtuhnya tembok tersebut, tidak berlangsung lama, dan hanya hitungan detik.

"Habis kami lari, saya tidak ingat lagi kami berempat, sudah enggak nampak lagi yang dua. Saya lihat ke belakang, ternyata kawan-kawan sudah tertimpa," ucapnya.

Dari seluruh korban, diketahui tujuh di antaranya meninggal dunia.

Sedangkan yang lainnya, mengalami luka ringan hingga berat.

Mahasiswa lainnya Randa Christianta Purba, mengungkapkan kejadian nahas tersebut terjadi sekira pukul 06.00 WIB pagi.

Ia mengaku tidak mengetahui secara persis bagaimana tembok setinggi kurang lebih tiga meter itu runtuh. Pasalnya, ia berada di lokasi joglo yang berbeda.

"Kalau awalnya saya tidak tau persis, soalnya saya tidur di joglo sebelah. Tapi ini karena memang temboknya sepertinya tidak kuat menahan tanah yang di atas," ujar Randa.

2. Angin bertiup kencang

Ia menjelaskan, sebelum peristiwa tersebut terjadi, angin yang ada di sekitar lokasi pemandian itu memang bertiup cukup kencang.

Selain itu, terpal penutup joglo tempat mereka beristirahat juga sempat terbang dua kali.

Untuk temboknya, dirinya mengaku tidak melihat tanda-tanda yang berarti, seperti suara akan rubuh.

Ia menyebutkan, pada saat pukul 05.00 WIB dirinya masih terbangun karena mengecek para peserta makrab yang lain.

Namun, pada saat mulai tertidur sekira pukul 06.00 WIB, dirinya mendengar suara orang minta tolong.

"Tadi pas baru sejam tidur, tiba-tiba ada yang teriak bilang bang tolong bang tolong, langsung lompat aku, rupanya ku lihat sudah banyak yang tertindih," ujar Randa.

Melihat kondisi korban sudah tertimpa bebatuan dan tanah, ia pun sontak memanggil rekan-rekannya yang lain untuk segera ikut membantu.

Namun, saat dirinya bersama rekannya mencoba mengangkat gundukan batu bercampur lumpur itu, ternyata sia-sia.

Mereka pun langsung berinisiatif untuk memecahkan bebatuan tersebut agar lebih mudah diangkat.

"Tadinya mau kami angkat, tapi tidak terangkat lagi, jadi kami pecahin lah batunya," jelasnya.

Foto Korban longsor (Tribun Medan/Nasrul)

3. Nama-nama Korban

Adapun data yang diperoleh hingga saat ini untuk korban meninggal dunia yang telah teridentifikasi, yaitu;

1  Enjelita br Ginting (Perempuan)

2. Mones Aruan (perempuan)

3. Emiya Elisa Gita br Tarigan (perempuan)

4. Sartika Teresia br Pinem (perempuan)

5. Sindy Simamora (perempuan).

6. Elisa Sari br Sembiring (perempuan)

7. Kerin Julanaita br Bangun (perempuan).

Korban luka-luka di antaranya;

1. Novita Sari (perempuan/19)

2. Indra (laki-laki/21)

3. Andika (laki-laki/22)

4  Jeanata (perempuan/18)

5. Desi br Sinambela (perempuan/21)

6. Putri Yolanda (perempuan/19)

7. Afinda (perempuan/20)

8. Grace Hutauruk (laki-laki/21)

9. Hanny Girsang (laki-laki/20).

Seluruh korban saat ini sudah mendapatkan penanganan di Rumah Sakit Amanda, Berastagi.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karo Martin Sitepu mengakui adanya  kejadian tersebut. 

Ia menyebutkan, sampai saat ini, korban akibat kejadian tersebut berkisar 16 orang.

Martin menyebutkan, seluruh korban merupakan mahasiswa dari Universitas Prima Indonesia Medan, Sumatera Utara. 

Dari seluruh korban, diketahui tujuh di antaranya meninggal dunia.

Sedangkan yang lainnya, mengalami luka ringan hingga berat.

"Tujuh korban meninggal, Sembilan lainnya cedera," katanya.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah