Cari

Pagelaran Seni Nias hingga Perlombaan Merebut Piala Rektor Universitas Sari Mutiara

Posted 10-12-2018 13:04  » Team Tobatabo
Foto Caption: Dua orang pemuda yang memakai pakaian khas daerah Nias tampak berusaha melompati sebuah replika batu yang ketinggiannya mencapai dua meter. Tradisi itu dikenal dengan nama lompat batu dan diperankan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Nias Universitas Sari Mutira (USM), Jumat (7/12/2018)

MEDAN - Lompat batu dipertunjukkan dalam sebuah pagelaran seni yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Nias Universitas Sari Mutiara. Pagelaran seni ini dilaksanakan di Universitas Sari Mutiara, Jumat (7/12/2018)

Selain lompat batu, ada pula pertunjukan tarian perang Tarian perang itu diikuti oleh enam orang pemuda. Gerakan mereka senada dengan lantunan lagu berbahasa Nias yang dibawakan mereka sambil dipimpin seorang pemuda dan diselingi oleh silat khas tanah Nias.

loading...

"Ada sembilan tarian yang kami mainkan di pagelaran seni. Pemerannya semua dari UKM kami ini. Tujuannya kami ingin menunjukkan pada anak muda tradisi suku Nias," tuturnya.

Acara ini bisa dikatakan sebagai awal dari sebuah acara besar yang sedang dipersiapkan olek UKM ini di Nias untuk Januari 2019 nanti. Kegiatan itu bertajuk pagelaran seni dan diselenggarakan di Gunung Sitoli.

"Ini merupakan pertama kali kami gelar. Apalagi di sini memang banyak mahasiswa yang berasal dari Nias. Dan semua mahasiswa yang berasal dari Nias wajib masuk ke UKM ini," tutur Arifin.

Pembina UKM Nias USM Karnirius Harefa menyatakan pagelaran seni ini akan dilaksanakan selama tiga hari yakni 10,11, dan 12. Akan diadakan perlombaan yang diikuti oleh seluruh SMA se Nias dan didukung penuh oleh rektor USM.

"Ini merupakan semangat mahasiswa dan jalan untuk belajar menyusun sebuah acara. Dan pelajaran seperti itu tidak di dapat di dalam kelas," tutur Karnirius.

Arifin mengaku sudah mengirim surat kepada beberapa sekolah yang ada di Nias. Dan animo sekolah tersebut cukup baik dan sudah mulai ada yang mendaftar.

"Semoga mereka bisa menjadi motor penggerak kegiatan serupa di daerahnya masing-masing. Sehingga kebudayaan bisa terlestarikan," pungkas Karnirius.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah