Cari
 Nasional
 Diposting 14-12-2018 10:20

Kisah Jimmy Rajagukguk, Menguak Ritual Sadis Komplotan Teroris Papua, Tembakan Diringi Tarian, Kejam

Foto Caption: KKB OPM

JAKARTA - Sadis! Komplotan teroris Papua dikenal kejam. Begitulah yang diungkapkan Jimmy Rajagukguk, korban yang selamat dari  tembakan dan kejaran Komplotan terorisPapua.

Apa yang dialami Jimmy Rajagukguk (Aritonang) di Nduga, Papua, pada hari Sabtu (1/12/2018), oleh komplotan teroris Papua tidak akan pernah hilang dari ingatannya.

Komplotan teroris Papua itu beraksi dengan leluasa pada sejumlah pekerja pembangunan yang semuanya merupakan masyarakat sipil.

Mereka melakukannya dengan sangat sadis diiringi ritual tarian mengerikan.  

Bau mesiu saat senjata api anggota KKB memberondong rekan-rekannya di Puncak Kabo, jeritan minta tolong hingga ucapan doa kepada Sang Khalik mohon keselamatan seakan melekat di benak Jimmy.

Jimmy masih bisa merasakan detak jantungnya semakin kencang saat dirinya dan belasan rekan kerjanya digiring menuju Puncak Kabo, untuk dibantai.

Jimmy selamat dari tembakan dan kejaran anggota teroris Papua yang sangat sadis.

Trauma masih terlihat di wajah Jimmy, namun dirinya bersedia membagikan kisah hidup yang tak akan pernah dia lupakan.

Baca juga NASIB Warga Sumut di Nduga: Jasad Efrandi dan Jepry Teridentifikasi, Rikki Belum Diketahui

Berikut ini sejumlah kisah Jimmy, korban selamat dari serangan KKB di Nduga:

1. Awal tragedi, komplotan teroris Papua datang sandera pekerja

Pada hari itu, sekitar belasan orang pegawai PT Istaka Karya berada di dalam salah satu ruangan kantor tengah berkumpul sambil bermain kartu domino untuk menghabiskan waktu istirahat sekitar pukul 15.00 WIT.

Tiba-tiba beberapa anggota teroris Papua datang dengan membawa senjata api dan senjata tajam mendobrak pintu kantor dan kamar kamp tempat Jimmy bekerja.

Saat itu, para pekerja sempat menolak membukakan pintu.

Beberapa pekerja sempat melawan, namun gagal.

Akhirnya, 24 pegawai PT Istaka Karya dan 1 pegawai PUPR dikumpulkan.

“Lalu kami dikumpulkan dan disuruh berbaris. Tak hanya itu mereka meminta kami membuka baju dan merampas telepon, dompet dan uang milik kami,” kata Jimmy.

Saat itu, KKB meminta para pekerja menghubungi pimpinan kamp pekerja, yaitu Jonny Arung.

Baca juga Mukjizat, Jimmi Aritonang Karyawan Istaka Karya Selamat dari Berondongan Peluru KKB

2. Jalan menuju Puncak Kabo yang mencekam

Jimmy mengatakan, KKB memaksa para pekerja melepas baju dan sepatu. Lalu mereka digiring keluar kamp untuk dibawa ke Puncak Kabo.

“Awalnya kami akan ke Puncak Kabo. Namun, setelah kira-kira 2 jam berjalan kaki, KKB ini meminta berhenti dan mengikat kami semua. Katanya mereka menunggu bos kami Jonny Arung (korban yang saat ini belum ditemukan). Jonny adalah bos kami di lapangan. Dia juga bagian Humas di PT Istaka Karya,” kata Jimmy.

Saat itu, terlihat seorang pendeta dan dua warga setempat datang ke lokasi upacara adat bakar batu untuk menemui para kelompok teroris Papua.

Pendeta dan warga tersebut meminta teroris Papua untuk melepaskan seluruh karyawan PT Istaka Karya.

“Saat itu, mereka enggan melepaskan kami dan meminta kepada pendeta dan dua orang anggota masyarakat agar bos datang. Kalau ia datang, kami lepaskan mereka. Lalu pendeta bersama masyarakat itu pergi meninggalkan kami,” ungkapnya.

Setelah 2 jam menunggu, Jonny Arung tak kunjung datang. Akhirnya KKB melepaskan ikatan dan memaksa para pekerja masuk ke kamp di wilayah Karunggame.

Baca juga Rikki Simanjuntak, Anak yang Selalu Membantu dari Perantauan itu Hilang di Papua, Keluarga Menanti di Kampung Halaman

3. Hari pembantaian, korban dipaksa mengaku anggota TNI

Sesampainya di Puncak Kabo, para pekerja yang sudah kelelahan dan ketakutan akhirnya dikumpulkan.

Lalu anggota KKB melakukan perbuatan keji yang tak pernah pekerja duga.

“Jadi, mereka membawa alat kamera untuk merekam. Ada tiga orang teman kami diminta mengaku sebagai anggota TNI yang berasal dari satuan Kopassus, BIN dan Bais. Saya secara pribadi tidak tahu maksud mereka. Di Puncak Kabo kami ketakutan, disiksa dan hanya bisa berdoa agar Tuhan melindungi kami,” kata Jimmy.

Tak lama dari perekaman video itu, ungkap Jimmy, mereka dijadikan satu dan ditembak dengan jarak kurang lebih 2 meter dengan menggunakan 6 pucuk senjata laras panjang dan 3 buah pistol.

Setelah itu, masih dengan senjata yang sama, para anggota KKB memberondong ke arah para pekerja sambil melakukan tarian.

“Senjata itu digunakan untuk menembak kami. Ada tari-tarian yang mereka lakukan. Lalu mereka menembak sambil mengelilingi dan menari. Saat itu, tembakan mereka jadi tidak terarah dan ada di antara kami yang tidak kena tembak, termasuk saya. Namun, kami semua pura-pura mati,” kata Jimmy.

4. Mencari selamat di dalam pohon besar yang tumbang

Jimmy melihat dengan mata kepala sendiri beberapa rekannya tumbang setelah diterjang peluru.

Jimmy luput dari tembakan, namun dirinya memilih untuk berpura-pura mati.

Cara itu ternyata jitu. KKB tidak menyadari dirinya masih hidup.

Setelah menunggu beberapa saat, Jimmy pun bangkit dan ternyata sejumlah temannya masih hidup.

Mereka pun segera memutuskan untuk berlari mencari bantuan.

Sayangnya, sejumlah anggota KKB melihat para pekerja masih hidup dan melarikan diri, termasuk Jimmy.

Sejumlah pekerja berhasil ditangkap kembali, dan dieksekusi oleh KKB.

Dalam pelariannya, Jimmy sempat bertemu dengan 3 rekannya.

Namun, saat mereka mengetahui KKB masih mengejar mereka, Jimmy pun terpisah.

Jimmy waktu itu bersembunyi di dalam sebuah pohon besar yang telah tumbang.

Saat itu, Jimmy mendengar suara rekannya dieksekusi oleh KKB.

5. Mama Papua dan pendeta selamatkan Jimmy

Aparat gabungan terus berusaha mengatasi komplotan teroris Papua, yang membantai 31 karyawan PT Istika Karya saat melakukan pengerjaan jalur Trans Papua di Kali Yigi dan Kali Aurak Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Setelah berjalan di lebatnya hutan agar tidak terkejar oleh teroris Papua, akhirnya Jimmy sampai ke wilayah Dall.

Jimmy sempat lega ketika bertemu dengan warga setempat.

Penampakan Kelompok Egianus Kogoya di Puncak Gunung Papua (Facebook Lewis Prai)

Namun, beberapa anggota teroris sudah terlebih dahulu di Dall.

Jimmy pun hanya bisa pasrah saat anggota teroris tersebut menangkapnya lagi.

Saat harapan hidupnya menipis, seorang ibu datang dan memberinya pakaian dan makanan.

Setelah memberinya pakaian dan makanan, mama tersebut pergi ke gereja dan memanggil pendeta.

“Saat itu, mereka dengan menggunakan bahasa daerah melakukan negosiasi agar saya tidak dibunuh. Kemudian, tak lama berselang, pendeta itu berkata, 'Ayo om kita pergi dan jangan lanjutkan lagi makannya'. Lalu kami pergi,” kata Jimmy mengingat perkataan pendeta itu.

Jimmy akhirnya diantar ke Pos TNI di Mbua oleh pendetatersebut.

Jimmy sempat bernafas lega.

Nyawanya masih bisa diselamatkan.

Namun, rasa lega Jimmy buyar setelah Pos TNI di Mbua diserang oleh teroris Papua yang mengejarnya.

Satu prajurit tewas terkena tembakan.

Jimmy terjebak dalam baku tembak selama kurang lebih 16 jam.

6. Mengungsi dalam gelap dan bertemu tim penyelamat

Jimmi Aritonang (baju hitam) salah satu pekerja pembangunan jembatan yang berhasil dievakuasi ke Wamena.

Usai baku tembak selama 16 jam yang menewaskan Serda Handoko, komandan Pos TNI Mbua memerintahkan semua orang di pos untuk mengungsi.

Jenazah Serda Handoko turut dibawa, termasuk semua amunisi milik TNI.

“Kemungkinan, sekitar jam 11 malam kami meninggalkan pos. Saat itu, kami membantu anggota TNI membawa barang-barang mereka seperti amunisi. Karena TNI tidak ingin ada amunisi yang tertinggal. Sedangkan anggota membawa senjata. Jadi kami membantu,” katanya.

Sebanyak 22 prajurit, empat pekerja dan beberapa warga sipil menyusuri gelapnya hutan.

Sesekali mereka bersembunyi saat melihat cahaya senter dari anggota KKB yang masih mencari mereka.

Lalu, pada tanggal 4 Desember 2018, sekitar pukul 15.00 WIT, rombongan Jimmy dan pasukan dari Pos TNI Mbua berhasil bertemu rombongan tim penyelamat berjumlah 150 orang dari TNI dan Polri.

“Jadi, kami berhasil menemukan tim evakuasi dari aparat TNI dan Polri dengan 24 kendaraan mobil. Saat itu, kami pun diajak kembali ke Pos TNI Mbua,” katanya.

7. Teringat nasib rekan-rekannya di Puncak Kabo

Setelah tiba di Pos TNI Mbua bersama pasukan penyelamat, Jimmy lalu menceritakan kronologi dari penyanderaan di kamp pekerja hingga eksekusi massal di ladang pembantaian di Puncak Kabo oleh para teroris Papua.

Saat itu, Jimmy bersedia membantu aparat untuk kembali ke Puncak Kabo dan melihat kondisi rekan-rekannya.

“Sebenarnya, saya takut. Tapi, saat dalam proses pelarian. Saya teringat dengan para korban meninggal, seperti tiga orang terakhir yang saya lihat mati. Itu sangat jauh lokasinya dan juga almarhum Hutagaol, yang terpaksa saya tinggal karena tak bisa lagi berjalan, akibat kakinya tertembak,” katanya.

Namun, setelah mendapat informasi salah satu anggota terkena tembakan, Jimmy batal dilibatkan dalam misi evakuasi tersebut.

Pada tanggal 4 Desember 2018 sekitar pukul 17.55 WIT, Jimmy Rajagukguk bersama 11 warga sipil lainnya dievakuasi dengan menggunakan helikopter MI 17 milik TNI dari Distrik Mbua menuju ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Setelah dievakuasi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, kemudian Jimmy Rajagukguk di evakuasi ke Timika, Kabupaten Mimika dan kini ia berada di Sentani, Kabupaten Jayapura.  

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah