Cari

Jenderal Luhut Pandjaitan Curhat Dihabisi saat Orba Hingga Larang Anaknya Paulus Masuk Akmil

Posted 25-06-2019 13:26  » Team Tobatabo
Foto Caption: Luhut Binsar Pandjaitan Semasa Aktif Dalam Operasi di Timtim (Tribunnews)

Mayor Inf Paulus Pandjaitan, anak dari Luhut Binsar Panjdaitan, Menko Maritim berhasil lulus dengan hasil yang baik dan memuaskan dari Pendidikan Seskoad USA (US Army Commanding General and Staff College / US Army CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas.

Ia lulus bersama dengan dua koleganya, yaitu Mayor Inf Alzaki lulusan Akmil Tahun 2004, dan Mayor Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo lulusan Akmil Tahun 2004.

loading...

Lulusnya Mayor Inf Paulus Pandjaitan memiliki cerita tersendiri bagi sang ayah.

Baca juga 3 Perwira TNI Lulus Memuaskan di Seskoad Amerika, Satu Diantaranya Anak Luhut Pandjaitan

Cerita ini pun dituliskan Luhut dalam akun Facebooknya.

Ia bercerita betapa bahagianya dia dengan kelulusan sang anak.

"Sebagai seorang ayah, ada kalanya keinginan kita bertolak belakang dengan cita-cita anak. Contohnya yang terjadi 20 tahun silam, ketika saya melarang anak laki-laki saya Paulus yang sangat ingin menjadi prajurit TNI seperti bapaknya.Singkat cerita, kemauan keras Paulus akhirnya menjadikan dia seorang tentara jua," tulis Luhut.

"Bahkan pada tanggal 14 Juni kemarin Mayor Inf. Paulus Pandjaitan telah berhasil menyelesaikan pendidikan Seskoad-nya (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di US Army Commanding General and Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat," lanjutnya

Dia pun bercerita bahwa dia hadir saat anaknya ketiganya lulus dalam rangka memenuhi kewajibannya sebagai orang tua. "Saya hadir di acara pelantikan tersebut dalam rangka memenuhi kewajiban sebagai orang tua," ujarnya.

Luhut pun bercerita bahwa ada momen yang membuatnya sampai harus meneteskan air mata dan teringat soal perjuangan anaknya untuk menjadi tentara.

Foto Tiga perwira Indonesia lulusan Seskoad USA (Facebook Pusat Penerangan TNI)

"Ada satu momen di sana yang tidak akan pernah terlupakan yaitu ketika anak laki-laki saya itu berkata, “Pa, saya sudah selesaikan Seskoad saya.” Ucapan yang mungkin biasa saja ketika didengar oleh orang lain.

loading...

Tapi bagi saya kata-kata itu cukup membuat air mata menitik. Ada rasa haru yang bercampur bangga di situ.

Ingatan saya kemudian membawa saya kembali ke tahun 1999 di mana Paulus yang baru lulus SMA, sampai datang mengejar saya yang waktu itu sedang bertugas menjadi Duta Besar RI di Singapura.

Dia memohon-mohon supaya diperbolehkan masuk Akademi Militer. Tapi saya berkata tidak.

Saya tahu bahwa saya sangat keras menentang kemauannya sampai dia menangis pada ibunya. Tapi saya tetap bersikukuh supaya Paulus menjadi sarjana saja.

Di balik itu sikap tegas itu sebenarnya saya menyimpan rasa sedih yang mendalam untuk anak saya.

“Kau masuk tentara mau diapain kau nanti?” gumam saya dalam hati karena sudah cukup saya mengalami rona-rona kehidupan di sana, bahwa seberapa keraspun dulu bekerja, seberapa hebatnya pun prestasi, saya tidak pernah mencapai puncak karir di lingkungan TNI. Tidak pernah jadi Kasdam, Pangdam atau Danjen Kopassus.

Foto Lulusan Seskoad Amerika berfoto dengan Luhut Binsar Pandjaitan (Facebook Pusat Penerangan TNI)

Sebagai seorang ayah saya tidak mau melihat dia nanti mengalami kesusahan yang pernah saya alami sebagai tentara.

Maka kemudian saya berpikir, menjadi pengusaha atau politisi adalah jalan yang lebih baik untuk Paulus.

Akhirnya Paulus mendaftar di UPH (Universitas Pelita Harapan) dan lulus 4 tahun kemudian sebagai sarjana hukum.

Menjelang wisuda, Paulus meminta waktu bicara dengan saya. Saya pikir mau apa lagi dia? Minta kawin atau apa? Tiba-tiba dia kembali meminta izin saya untuk diperbolehkan masuk tentara.

Kali itu saya bilang bahwa sudah terlambat baginya untuk masuk Akmil karena bakal tertinggal 4 tahun di belakang teman-teman seangkatannya.

“Pokoknya saya masuk tentara, masuk Kopassus, karena itu cita-cita saya,” jawabnya bersikukuh sembari menekankan kalaupun dia tidak mungkin masuk lewat jalur Akmil, Jalur Sepa PK (Sekolah Perwira Prajurit Karier) pun tidak masalah.

Jalur yang saya sebenarnya tidak rela untuk dia lalui.

Akhirnya dengan berat hati saya kirim dia ke Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat Pak Mayjen Dr. Heriyono untuk menjalani psikotes. Hasilnya, Paulus dinilai mumpuni baik secara kepribadian maupun intelektual.

Foto Luhut Binsar Pandjaitan dan anaknya Mayor Inf Paulus Panjdaitan (Facebook/Luhut Binsar Pandjaitan)

Sesuai dengan janji saya pada Paulus, maka saya mengijinkan dia masuk tentara karena lolos psikotes. Berbagai tes kemudian dia jalani termasuk ujian Komando.

Dia kemudian tetap bertekun, lulus, dan semua proses dijalani dengan normal tanpa campur tangan ayahnya. Setelah menjadi prajurit komando diapun memilih untuk tinggal di barak di Cijantung dibandingkan bersama dengan orangtuanya lagi.

Padahal tadinya selama kuliah, dia mendapat fasilitas bagus dari kami. Dia kemudian tetap hidup di mes tentara sampai menikah, kemudian mengambil Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa), melanjutkan S2 di Australia, dan akhirnya lulus tes Seskoad dan dikirim ke Amerika," tulisnya.

Foto Ternyata Mayor Inf Paulus Pandjaitan adalah salah satunya Perwira jalur Sepa yang berhasil lolos menempuh pendidikan di Seskoad USA (US Army Commanding General and Staff College / US Army CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas.

"Setahu saya Paulus hingga hari ini adalah satu-satunya perwira jalur Sepa PK yang berhasil lolos seleksi lalu dikirim ke Amerika," Lanjutnya.

Dengan pencapaian anak-anaknya kini, Luhut menyampaikan bahwa dia sangat bangga.

Dia pun berharap kedepan bisa selalu menopang dan mendukung pilihan hidup dari anak-anaknya.

"Ke depannya, saya memberikan kebebasan kepada Paulus untuk berkarir. Apapun pilihan Paulus dan ketiga anak saya yang lain, yang penting mereka menjadi orang baik.

Karena pencapaian tertinggi seorang ayah adalah keberhasilan kita mendorong anak untuk menyelesaikan studi dengan bagus, bekerja dengan hati, dan tidak memanfaatkan keberadaan ayahnya. Biarlah setiap anak kita menjadi dirinya sendiri.

Dan sampai sekarang, saya bangga dengan anak-anak saya, selain ada Paulus dan istrinya Novella, ada Uli dengan suaminya Maruli yang mengabdi sebagai prajurit TNI, David yang berbisnis didampingi istrinya Intan, juga Kerri yang sibuk dengan kegiatan sosialnya," katanya.

Lanjut Luhut, cerita yang dia sampaikan tersebut bisa dibaca para orang tua dan juga perwira-perwira TNI supaya melihat talenta tentara-tentara muda dan mendukungnya meraih prestasi yang lebih baik lagi.

"Selain untuk dibaca oleh setiap orang tua, tulisan ini juga saya tujukan khususnya kepada perwira-perwira TNI untuk mulai melihat talenta tentara-tentara muda dan mengembangkannya.

Karena selain Paulus, ada juga Mayor Inf. Delly Yudha Nurcahyo dan Mayor Inf. Alzaki yang ketiganya bersamaan lulus Seskoad di Amerika dengan hasil yang baik dan memuaskan.

Padahal kita sama tahu bahwa Seskoad adalah tahapan pendidikan di lingkungan TNI-AD yang sangat sulit, terseleksi, dan sangat menentukan perkembangan karir selanjutnya.

Bahkan Alzaki yang sempat bekerja dengan saya di Kemenko Polhukam dan Maritim adalah satu-satunya perwira dalam sejarah TNI-AD yang memperoleh penghargaan The Simon Center Interagency Writing Award.

Jika talenta muda seperti mereka dikembangkan maka ke depannya mereka bisa membawa TNI menjadi lebih profesional dan betul-betul bisa membuat TNI menjadi penjaga NKRI, Pancasila, UUD NKRI Tahun 1945, serta berpegang teguh pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Sedangkan untuk setiap anak yang membaca tulisan ini, saya ingatkan agar berhati-hatilah dalam bersikap kepada orang tuamu. Karena apa yang kau lakukan pada mereka, bisa jadi akan dibalas oleh anakmu.

Seperti saya dulu yang nekad masuk Akabri padahal tidak diperbolehkan ayah saya yang ingin saya masuk ITB, sekarang “dibalas” oleh anak saya yang bersikeras mau jadi tentara, padahal ayahnya menginginkan dia jadi pengusaha atau politisi.

Memang agak lain bentuknya, tapi hal ini terulang seperti de javu," tulisnya.

Curhat Luhut ini membuka kembali jalan terjal yang dilaluinya di TNI.

“Kau masuk tentara mau diapain kau nanti?” gumam saya dalam hati karena sudah cukup saya mengalami rona-rona kehidupan di sana, bahwa seberapa keraspun dulu bekerja, seberapa hebatnya pun prestasi, saya tidak pernah mencapai puncak karir di lingkungan TNI. Tidak pernah jadi Kasdam, Pangdam atau Danjen Kopassus.''

Tercatat sebagai lulusan terbaik dari TNI AD 1970 atau penerima Adhi Makayasa, lama berkiprah di Kopassus, namun jabatan komando atau teritorial yang disandang Luhut tidak secemerlang juniornya Prabowo.

Jangankan menjadi Pangdam, menjabat Kepala Staf Kodam (Kasdam) saja tidak pernah. 

Meski lama di Kopassus bahkan ikut membidani Satgultor, Luhut tak pernah menjabat Danjen Kopassus.

Jabatan teritorial yang pernah diemban Luhut hanya Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur. Saat itu, Luhut meraih prestasi sebagai Komandan Korem Terbaik di Indonesia (1995).

Namun saat menjabat Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya itulah Luhut diperintahkan pejabat Orba untuk menjegal Gus Dur menjadi Ketua NU.

Kelak Gus Dur akan jadi Presiden Keempat RI yang membuat karier politik Luhut bersinar.

Setelah itu, jabatan bintang Luhut didapat saat menjabat Wakil Komandan Pusat Persenjataan Infanteri (Pussenif) TNI-AD sebelum menjadi Komandan Pussenif TNI-AD (1996-1997).

Jabatan terakhir Luhut di TNI adalah Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD) (1997-1998).

Luhut pensiun dari TNI dengan pangkat Letjen.

Namun Presiden Gus Dur menganugerahi Luhut pangkat Jenderal Kehormatan TNI (HOR) pada 1 November 2000.

Menurut Salim Said dalam buku:  Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016: 160), Luhut masuk 'kartu mati' karena dianggap sebagai orang LB Moerdani.

Meski kariernya tenggelam di TNI, Luhut justru bersinar di panggung politik setelah pensiun saat Orba tumbang.

Saat Presiden Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie berkuasa, Luhut ditarik menjadi duta besar di Singapura.  Lalu di era Presiden Abdurrahman Wahid, Luhut menjabat  Menteri Perindustrian.

Di era Presiden Jokowi, Luhut diangkat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia sejak 31 Desember 2014 hingga 2 September 2015.

Pada 12 Agustus 2015, Luhut ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno.

Dalam reshuffle Kabinet Kerja Jilid II pada tanggal 27 Juli 2016, lLuhut diangkat menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli.

Bahkan beberapa pihak yang berseberangan dengan Jokowi menjuluki Luhut sebagai real president, meski ini dibantah Luhut maupun orang-orang di lingkaran Presiden Jokowi.  

Soal ditempat di pos kartu mati di TNI, Luhut menulis akun facebooknya saat kembali berkunjung ke Pussenif) di Kota Bandung.

Berikut postingannya:

Saya pernah ditugaskan di tempat yang kata orang ‘pohon pun tidak akan tumbuh di situ’.

Sebuah ungkapan yang menggambarkan sulitnya karir seorang tentara bertumbuh selama bertugas di sebuah badan bernama Pusat Persenjataan Infantri (Pussenif) di Kota Bandung.

Tahun 1996-1997 saya bertugas sebagai Komandan di situ, setelah sebelumnya sempat menjadi Wakil Komandan. Dan anggapan itu terbukti tidak benar karena karir saya sampai hari ini masih bertumbuh.

Bagaimana bisa? Itulah yang saya sebut sebagai mistery of life.

Di mana kita semua punya suratan hidup masing-masing. Mungkin ada kalanya kita merasa ditempatkan pada posisi yang tidak semestinya.

Tapi yakinilah bahwa ada blueprint/rancangan Tuhan untuk masa depan kita, sehingga kita tidak perlu risau.

Nikmati hari-harimu dan bekerjalah saja sebaik-baiknya, seperti yang saya lakukan dulu.

Selain itu ada satu prinsip yang selalu saya pegang: loyalitas.

Apapun yang terjadi, saya tetap loyal pada atasan, loyal pada kesatuan, dan loyal pada NKRI.

Saya tidak pernah mengkhianati teman saya, saya tidak pernah mengkhianati atasan saya, dan saya tidak pernah mengkhianati sumpah saya sebagai tentara di Lembah Tidar yaitu Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

Demikianlah titipan pesan saya sebagai seorang yang lebih senior kepada 510 orang perwira yang hadir di acara Apel Danrem Dandim Terpusat 2018 pada Senin lalu di Pussenif. Saya senang bisa kembali ke sana, setelah 21 tahun berlalu.

Karier militer Luhut:

  • Letnan Dua Inf (1970)
  • Letnan Satu Inf (1973)
  • Kapten Inf (1975)
  • Mayor Inf (1980)
  • Letnan Kolonel Inf (1983)
  • Kolonel Inf (1990)
  • Brigadir Jenderal TNI (1995)
  • Mayor Jenderal TNI (1996)
  • Letnan Jenderal TNI (1997)
  • Jenderal TNI (HOR) (01-11-2000)

Jabatan Militer

  • Komandan Peleton I/A Group 1 Para Komando, Kopassandha (1971).
  • Komandan Peleton Batalyon Siliwangi Di Kalimantan Barat, Pada Operasi Pemberantasan Dan Penumpasan PGRS/Paraku (1972).
  • Komandan Kompi A Group 1 Para Komando, Kopassandha (1973).
  • Komandan Kompi A Pasukan Kontingen Garuda (KONGA VI) Wilayah Port Said, Port Fuad, Port Suez, Mesir (Desember 1973 - Oktober 1974).
  • Ajudan Pribadi Brigjen TNI Yogi S Memed (Komandan Brigade Selatan, Wilayah Terusan Suez) Kontingen Garuda (KONGA VI), Mesir (Desember 1973 - Oktober 1974).
  • Komandan Tim C Group 1 Para Komando Satuan Lintas Udara Pada Operasi Seroja, Kopassandha (1975).
  • Komandan Kompi Pasukan Pemburu Kopasshanda Pada Elemen Satgas Tempur Khusus, Pada Operasi Seroja (1976), Sekaligus Meraih Prestasi Dan Predikat Sebagai Komandan Kompi Terbaik Dalam Operasi Seroja.
  • Perwira Operasi Pada Pusat Intelijen Strategis/Pusintelstrat.
  • Perwira Operasi Pada Satuan Tugas/Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.
  • Pendiri dan Komandan Pertama Detasemen 81 Anti Teroris Kopassus (1981)
  • Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Rajawali Pada Pusat Intelijen Strategis/Pusintelstrat, BAIS ABRI (1983)
  • Komandan Satuan Pengamanan Presiden RI/VVIP Pada KTT ASEAN Manila, Filipina (1984).
  • Pendiri dan Komandan Pertama Proyek Charlie/Proyek Intelijen Teknik (Proyek Yang Menjadi Creme De La Creme TNI) Pada Detasemen 81 Anti Teroris Kopassus (1985).
  • Pendiri Dan Komandan Pertama Sekolah Pertempuran Khusus (Sepursus) Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) (1986).
  • Komandan Satgas Tempur Khusus Pasukan Pemburu Kopassus (Detasemen-86) Di Sektor Tengah Khusus (Osu, Frekueike, Laisorobai) Timor-Timur (1986). Meraih Prestasi Dan Predikat Sebagai Komandan Satgas Tempur Terbaik Di Timor-Timur.
  • Komandan Sekolah Pusdik Para Lintas Udara Pusshandalinud/Pada Pusat Pendidikan Pasukan Khusus/Pusdikpassus, Kopassus (1987).
  • Asisten Operasi (Asops) Kopassus (1989)
  • Komandan Group 3 Sandhi Yudha Kopassus, (1990)
  • Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus), (1993)
  • Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur, Meraih Prestasi Sebagai Komandan Korem Terbaik Di Indonesia (1995)
  • Wakil Komandan Pusat Persenjataan Infanteri
  • Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) TNI-AD (1996-1997)
  • Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD) (1997-1998).

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah