Cari

Batak Parmalim Merupakan Penganut Agama Yahudi Terakhir Ditano Batak! Apa Benar?

Posted 21-06-2017 21:35  » Team Tobatabo
Foto Caption: Suku Batak Parmalim

Ugamo Malim adalah agama asli yang dianut Bangso Batak sebelum agama Islam, Kristen dan Katolik dianut sebagian besar Batak Toba.

Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim, pimpinan tertinggi Ugamo Malim adalah Raja Sisingamangaraja I-XII.

loading...

Saat ini Parmalim yang tersisa di Tano Batak hanya sekitar 10.000 orang. Ugamo Malim terpusat di Huta Tinggi, Laguboti Kabupaten Tobasa.

Pimpinan Parmalim bernama Raja Marnangkok Naipospos, meneruskan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja Sinambela XII.

Yang menarik adalah Ugamo Malim ini memiliki banyak kesamaan dan kemiripan dengan Agama Yahudi Kuno.

Ugamo Malim telah diturunkan dari generasi ke generasi oleh Leluhur Bangso Batak (30-35 generasi) berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang dimiliki Bangso Batak, satu generasi sekitar 25 tahun.

Ada satu pertanyaan besar yang sampai saat ini yang mengganjal pada sebagian besar orang-orang Batak Toba, Mengapa Bangso Batak memiliki banyak kesamaan/kemiripan Budaya dengan Bangsa Israel Kuno ?

Padahal Bangso Batak dan Bangsa Israel Kuno terpisah oleh waktu selama 3500-4000 tahun, dipisahkan oleh jarak puluhan ribu km dan dipisahkan juga oleh beberapa samudra yang amat luas.

Ada Pepatah Batak Kuno yang mengatakan "Ndang Adong Jolma Manisia Na Madekdek/Madabu Sian Langit (Banua Ginjang), Na Ruar/Rungkar Sian Toru Ni Tano, Na Mullop Sian Bagasan Aek Dohot Na Mapultak Sian Bulu.

Sude Jolma Manisia Ingkon Adong Do Mula Dohot Haroroanna" yang artinya :"Tidak ada satupun manusia yang jatuh dari langit, yang keluar dari dalam tanah, yang muncul dari dalam air dan pecah dari dalam bambu.

Semua manusia pasti memiliki asal muasal tidak mungkin muncul begitu saja." Mungkin akan ada yang bertanya, mungkin saja Bangso Batak meniru Budaya dan Adat Istiadat Bangsa Israel setelah membacanya dari Perjanjian Lama (Alkitab) ?

Mungkin saja, tetapi fakta menyatakan sebaliknya. Penginjil pertama yang datang ke Tano Batak adalah Munson dan Leyman, mereka tiba di Sibolga pada tahun 1834, 14 tahun setelah "Tinki Ni Pidari" (1815-1820).

Tingki Ni Pidari adalah sebuah jaman yang amat mengerikan bagi Bangso Batak. Munson dan Leyman gagal mengkristenkan Bangso Batak, bahkan mereka berdua dinyatakan mati atau menghilang.

loading...

Menghilangnya Munson dan Leyman inilah yang memunculkan sebutan "Batak Siallang Jolma" (Orang Batak Pemakan Manusia).

Tidak ada versi cerita yang dapat diverifikasi kebenarannya mengenai hal ini. Tapi cerita inilah yang selalu digunakan para Penginjil untuk mendiskreditkan Leluhur Bangso Batak sampai sekarang. Lalu sekitar 30 tahun kemudian IL.

Nomennsen tiba di Tarutung yaitu pada tahun 1862. IL. Nomennsen melakukan pembabtisan pertama pada tahun 1865.

Jadi Kekristenan ada di Tano Batak baru sekitar 150 tahun. Sedangkan berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang ada, Bangso Batak mempunyai 30-35 generasi (1 generasi sekitar 25 Tahun) sekitar 700-850 tahun atau mungkin saja lebih.

Kemiripan budaya Bangso Batak Toba dan Bangsa Israel Kuno tidaklah mungkin didapat setelah membaca Perjanjian Lama (Alkitab).

Salah satunya adalah Perkawinan dengan Pariban (menikahi putri paman dari pihak ibu), seperti yang dilakukan Jacob (Es-Rael) menikahi putri pamannya Laban.

Jacob melakukan hal ini sekitar 3900 tahun yang lalu dan Bangso Batak masih melakukannya sampai sekarang, dan yang lebih aneh lagi, orang-orang Yahudi sekarang bahkan tidak melakukan perkawinan antar Pariban ini lagi.

Bicara soal tiru-meniru Budaya Bangsa Israel, bukankah lebih mudah bagi suku-suku bangsa di sekitar Tanah Kanaan (Negara Israel sekarang) untuk meniru budaya dan adat istiadat dari Bangsa Israel.

Bahkan beberapa Komunitas Kristen tertua di dunia ada di sekitar negara Israel seperti yang tertulis di Perjanjian Baru Alkitab, seperti jemaat di Korintus, di Antitokia dll.

Ada komunitas Gereja Ortodoks yang amat tua di Yerusalem (Tepi Barat) Palestina, komunitas Gereja Kuno di Libanon, Gereja-gereja Kuno di Syria, Gereja Kristen Nestorian di Iraq dan Gereja Koptik di Mesir.

Tetapi fakta dan kenyataannya, tidak ada satupun dari komunitas gereja-gereja kuno tersebut yang sanggup meniru budaya dan adat dari Bangsa Israel.

Bukankah seharusnya mereka lebih mudah meniru dan mengcopy paste budaya dan adat Bangsa Israel kedalam budaya mereka sendiri dibandingkan dengan Bangso Batak yang terpisah oleh jarak puluhan ribu km dan beberapa samudera yang amat luas serta terpisah oleh waktu selama ribuan tahun ?

Dan ada fakta menarik yang lainnya, Pemerintah Israel tidak pernah menemukan satupun dari TEN LOST TRIBES OF ISRAEL di sekitar negara Israel itu sendiri.

Bahkan di kawasan Timur Tengah (Middle East) dan Jazirah Arab tidak ada TEN LOST TRIBES yang ditemukan.

Pemerintah Israel malah menemukan The Falasha (Beta Israel) yang berkulit hitam di Ethopia, The Pathan (Suku Pushtun) di Afganishtan dan Pakistan, Bnei Menashe (Suku Mirizoam) yang berkulit sawo matang di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar, The Kaifeng (Suku Yahudi China) yang berkulit putih di Tiongkok, Suku-suku Yahudi Indian yang berkulit kemerah-merahan di Benua Amerika dan lain-lain.

Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel kuno yang hilang?

Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra), adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang, pergi mengembara.

Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.

Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD), sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA diantara bangsa-bangsa. Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di Hindia yang berdekatan dengan India.

Sumatera juga merupakan salah satu pulau di Lautan Samudera Hindia. Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula tanganNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD) yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di Pulau-pulau di Laut.

Sebagai perbandingan, Bangsa Israel memiliki 3 ciri-ciri utama:

1. Bangsa Superior di atas suku-suku bangsa lain.

2. Memiliki ingatan masa lalu yang amat kuat.

3. Bangsa yang teguh memegang adat-istiadat dan budayanya.

 

 

Ugamo Malim adalah agama asli yang dianut Bangso Batak sebelum agama Islam, Kristen dan Katolik dianut sebagian besar Batak Toba. Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim, pimpinan tertinggi Ugamo Malim adalah Raja Sisingamangaraja I-XII. Saat ini Parmalim yang tersisa di Tano Batak hanya sekitar 10.000 orang. Ugamo Malim terpusat di Huta Tinggi, Laguboti Kabupaten Tobasa. Pimpinan Parmalim bernama Raja Marnangkok Naipospos, meneruskan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja Sinambela XII. Yang menarik adalah Ugamo Malim ini memiliki banyak kesamaan dan kemiripan dengan Agama Yahudi Kuno. Ugamo Malim telah diturunkan dari generasi ke generasi oleh Leluhur Bangso Batak (30-35 generasi) berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang dimiliki Bangso Batak, satu generasi sekitar 25 tahun. Ada satu pertanyaan besar yang sampai saat ini yang mengganjal pada sebagian besar orang-orang Batak Toba, Mengapa Bangso Batak memiliki banyak kesamaan/kemiripan Budaya dengan Bangsa Israel Kuno ? Padahal Bangso Batak dan Bangsa Israel Kuno terpisah oleh waktu selama 3500-4000 tahun, dipisahkan oleh jarak puluhan ribu km dan dipisahkan juga oleh beberapa samudra yang amat luas. Ada Pepatah Batak Kuno yang mengatakan "Ndang Adong Jolma Manisia Na Madekdek/Madabu Sian Langit (Banua Ginjang), Na Ruar/Rungkar Sian Toru Ni Tano, Na Mullop Sian Bagasan Aek Dohot Na Mapultak Sian Bulu. Sude Jolma Manisia Ingkon Adong Do Mula Dohot Haroroanna" yang artinya :"Tidak ada satupun manusia yang jatuh dari langit, yang keluar dari dalam tanah, yang muncul dari dalam air dan pecah dari dalam bambu. Semua manusia pasti memiliki asal muasal tidak mungkin muncul begitu saja." Mungkin akan ada yang bertanya, mungkin saja Bangso Batak meniru Budaya dan Adat Istiadat Bangsa Israel setelah membacanya dari Perjanjian Lama (Alkitab) ? Mungkin saja, tetapi fakta menyatakan sebaliknya. Penginjil pertama yang datang ke Tano Batak adalah Munson dan Leyman, mereka tiba di Sibolga pada tahun 1834, 14 tahun setelah "Tinki Ni Pidari" (1815-1820). Tingki Ni Pidari adalah sebuah jaman yang amat mengerikan bagi Bangso Batak. Munson dan Leyman gagal mengkristenkan Bangso Batak, bahkan mereka berdua dinyatakan mati atau menghilang. Menghilangnya Munson dan Leyman inilah yang memunculkan sebutan "Batak Siallang Jolma" (Orang Batak Pemakan Manusia). Tidak ada versi cerita yang dapat diverifikasi kebenarannya mengenai hal ini. Tapi cerita inilah yang selalu digunakan para Penginjil untuk mendiskreditkan Leluhur Bangso Batak sampai sekarang. Lalu sekitar 30 tahun kemudian IL. Nomennsen tiba di Tarutung yaitu pada tahun 1862. IL. Nomennsen melakukan pembabtisan pertama pada tahun 1865. Jadi Kekristenan ada di Tano Batak baru sekitar 150 tahun. Sedangkan berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang ada, Bangso Batak mempunyai 30-35 generasi (1 generasi sekitar 25 Tahun) sekitar 700-850 tahun atau mungkin saja lebih. Kemiripan budaya Bangso Batak Toba dan Bangsa Israel Kuno tidaklah mungkin didapat setelah membaca Perjanjian Lama (Alkitab). Salah satunya adalah Perkawinan dengan Pariban (menikahi putri paman dari pihak ibu), seperti yang dilakukan Jacob (Es-Rael) menikahi putri pamannya Laban. Jacob melakukan hal ini sekitar 3900 tahun yang lalu dan Bangso Batak masih melakukannya sampai sekarang, dan yang lebih aneh lagi, orang-orang Yahudi sekarang bahkan tidak melakukan perkawinan antar Pariban ini lagi. Bicara soal tiru-meniru Budaya Bangsa Israel, bukankah lebih mudah bagi suku-suku bangsa di sekitar Tanah Kanaan (Negara Israel sekarang) untuk meniru budaya dan adat istiadat dari Bangsa Israel. Bahkan beberapa Komunitas Kristen tertua di dunia ada di sekitar negara Israel seperti yang tertulis di Perjanjian Baru Alkitab, seperti jemaat di Korintus, di Antitokia dll. Ada komunitas Gereja Ortodoks yang amat tua di Yerusalem (Tepi Barat) Palestina, komunitas Gereja Kuno di Libanon, Gereja-gereja Kuno di Syria, Gereja Kristen Nestorian di Iraq dan Gereja Koptik di Mesir. Tetapi fakta dan kenyataannya, tidak ada satupun dari komunitas gereja-gereja kuno tersebut yang sanggup meniru budaya dan adat dari Bangsa Israel. Bukankah seharusnya mereka lebih mudah meniru dan mengcopy paste budaya dan adat Bangsa Israel kedalam budaya mereka sendiri dibandingkan dengan Bangso Batak yang terpisah oleh jarak puluhan ribu km dan beberapa samudera yang amat luas serta terpisah oleh waktu selama ribuan tahun ? Dan ada fakta menarik yang lainnya, Pemerintah Israel tidak pernah menemukan satupun dari TEN LOST TRIBES OF ISRAEL di sekitar negara Israel itu sendiri. Bahkan di kawasan Timur Tengah (Middle East) dan Jazirah Arab tidak ada TEN LOST TRIBES yang ditemukan. Pemerintah Israel malah menemukan The Falasha (Beta Israel) yang berkulit hitam di Ethopia, The Pathan (Suku Pushtun) di Afganishtan dan Pakistan, Bnei Menashe (Suku Mirizoam) yang berkulit sawo matang di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar, The Kaifeng (Suku Yahudi China) yang berkulit putih di Tiongkok, Suku-suku Yahudi Indian yang berkulit kemerah-merahan di Benua Amerika dan lain-lain

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/7anrajaturi/batak-parmalim-penganut-agama-yahudi-terakhir-di-tano-batak_54f41d4d745513a12b6c8610
Ugamo Malim adalah agama asli yang dianut Bangso Batak sebelum agama Islam, Kristen dan Katolik dianut sebagian besar Batak Toba. Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim, pimpinan tertinggi Ugamo Malim adalah Raja Sisingamangaraja I-XII. Saat ini Parmalim yang tersisa di Tano Batak hanya sekitar 10.000 orang. Ugamo Malim terpusat di Huta Tinggi, Laguboti Kabupaten Tobasa. Pimpinan Parmalim bernama Raja Marnangkok Naipospos, meneruskan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja Sinambela XII. Yang menarik adalah Ugamo Malim ini memiliki banyak kesamaan dan kemiripan dengan Agama Yahudi Kuno. Ugamo Malim telah diturunkan dari generasi ke generasi oleh Leluhur Bangso Batak (30-35 generasi) berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang dimiliki Bangso Batak, satu generasi sekitar 25 tahun. Ada satu pertanyaan besar yang sampai saat ini yang mengganjal pada sebagian besar orang-orang Batak Toba, Mengapa Bangso Batak memiliki banyak kesamaan/kemiripan Budaya dengan Bangsa Israel Kuno ? Padahal Bangso Batak dan Bangsa Israel Kuno terpisah oleh waktu selama 3500-4000 tahun, dipisahkan oleh jarak puluhan ribu km dan dipisahkan juga oleh beberapa samudra yang amat luas. Ada Pepatah Batak Kuno yang mengatakan "Ndang Adong Jolma Manisia Na Madekdek/Madabu Sian Langit (Banua Ginjang), Na Ruar/Rungkar Sian Toru Ni Tano, Na Mullop Sian Bagasan Aek Dohot Na Mapultak Sian Bulu. Sude Jolma Manisia Ingkon Adong Do Mula Dohot Haroroanna" yang artinya :"Tidak ada satupun manusia yang jatuh dari langit, yang keluar dari dalam tanah, yang muncul dari dalam air dan pecah dari dalam bambu. Semua manusia pasti memiliki asal muasal tidak mungkin muncul begitu saja." Mungkin akan ada yang bertanya, mungkin saja Bangso Batak meniru Budaya dan Adat Istiadat Bangsa Israel setelah membacanya dari Perjanjian Lama (Alkitab) ? Mungkin saja, tetapi fakta menyatakan sebaliknya. Penginjil pertama yang datang ke Tano Batak adalah Munson dan Leyman, mereka tiba di Sibolga pada tahun 1834, 14 tahun setelah "Tinki Ni Pidari" (1815-1820). Tingki Ni Pidari adalah sebuah jaman yang amat mengerikan bagi Bangso Batak. Munson dan Leyman gagal mengkristenkan Bangso Batak, bahkan mereka berdua dinyatakan mati atau menghilang. Menghilangnya Munson dan Leyman inilah yang memunculkan sebutan "Batak Siallang Jolma" (Orang Batak Pemakan Manusia). Tidak ada versi cerita yang dapat diverifikasi kebenarannya mengenai hal ini. Tapi cerita inilah yang selalu digunakan para Penginjil untuk mendiskreditkan Leluhur Bangso Batak sampai sekarang. Lalu sekitar 30 tahun kemudian IL. Nomennsen tiba di Tarutung yaitu pada tahun 1862. IL. Nomennsen melakukan pembabtisan pertama pada tahun 1865. Jadi Kekristenan ada di Tano Batak baru sekitar 150 tahun. Sedangkan berdasarkan Tarombo (Silsilah) yang ada, Bangso Batak mempunyai 30-35 generasi (1 generasi sekitar 25 Tahun) sekitar 700-850 tahun atau mungkin saja lebih. Kemiripan budaya Bangso Batak Toba dan Bangsa Israel Kuno tidaklah mungkin didapat setelah membaca Perjanjian Lama (Alkitab). Salah satunya adalah Perkawinan dengan Pariban (menikahi putri paman dari pihak ibu), seperti yang dilakukan Jacob (Es-Rael) menikahi putri pamannya Laban. Jacob melakukan hal ini sekitar 3900 tahun yang lalu dan Bangso Batak masih melakukannya sampai sekarang, dan yang lebih aneh lagi, orang-orang Yahudi sekarang bahkan tidak melakukan perkawinan antar Pariban ini lagi. Bicara soal tiru-meniru Budaya Bangsa Israel, bukankah lebih mudah bagi suku-suku bangsa di sekitar Tanah Kanaan (Negara Israel sekarang) untuk meniru budaya dan adat istiadat dari Bangsa Israel. Bahkan beberapa Komunitas Kristen tertua di dunia ada di sekitar negara Israel seperti yang tertulis di Perjanjian Baru Alkitab, seperti jemaat di Korintus, di Antitokia dll. Ada komunitas Gereja Ortodoks yang amat tua di Yerusalem (Tepi Barat) Palestina, komunitas Gereja Kuno di Libanon, Gereja-gereja Kuno di Syria, Gereja Kristen Nestorian di Iraq dan Gereja Koptik di Mesir. Tetapi fakta dan kenyataannya, tidak ada satupun dari komunitas gereja-gereja kuno tersebut yang sanggup meniru budaya dan adat dari Bangsa Israel. Bukankah seharusnya mereka lebih mudah meniru dan mengcopy paste budaya dan adat Bangsa Israel kedalam budaya mereka sendiri dibandingkan dengan Bangso Batak yang terpisah oleh jarak puluhan ribu km dan beberapa samudera yang amat luas serta terpisah oleh waktu selama ribuan tahun ? Dan ada fakta menarik yang lainnya, Pemerintah Israel tidak pernah menemukan satupun dari TEN LOST TRIBES OF ISRAEL di sekitar negara Israel itu sendiri. Bahkan di kawasan Timur Tengah (Middle East) dan Jazirah Arab tidak ada TEN LOST TRIBES yang ditemukan. Pemerintah Israel malah menemukan The Falasha (Beta Israel) yang berkulit hitam di Ethopia, The Pathan (Suku Pushtun) di Afganishtan dan Pakistan, Bnei Menashe (Suku Mirizoam) yang berkulit sawo matang di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar, The Kaifeng (Suku Yahudi China) yang berkulit putih di Tiongkok, Suku-suku Yahudi Indian yang berkulit kemerah-merahan di Benua Amerika dan lain-lain

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/7anrajaturi/batak-parmalim-penganut-agama-yahudi-terakhir-di-tano-batak_54f41d4d745513a12b6c8610

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah