Cari

Partisipan Festival 1000 Tenda di Tepi Danau Toba Hadir Dari Seluruh Nusantara

Posted 01-07-2019 16:03  » Team Tobatabo
Foto Caption: Festival 1000 Tenda 2019 (Jhonny Siahaan)

TOBASA - Bendera dari berbagai komunitas sudah berkibar sejak Sabtu (29/6) pagi di Pantai Simanjuntak, Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Tenda-tenda berbagai warna semakin menambah indah Danau Toba.

Dari berbagai penjuru terdengar sayup-sayup orang bercengkrama ataupun bernyanyi bersama. Mereka adalah para peserta Festival 1.000 Tenda Kaldera.

loading...

Acaranya begitu meriah. Dengan konsep  teranyar dari dua even sebelumnya. Suguhan pemandangan Meat yang apik membuat pengunjung terpukau.

Simak nih kerennya Festival 1.000 tenda yang digawangi Rumah Karya Indonesia (RKI).

Penyelenggara sudah mensosialisasikan soal Festival 1.000 Tenda jauh hari sebelum acara. Saat registrasi saja, lebih dari 3.000 peserta yang mendaftar.

Baca juga “Sayur Kol” Punxgoaran Hangatkan Puncak Festival 1000 Tenda di Danau Toba

Pesertanya dari berbagai daerah di Sumut. Bahkan ada peserta yang jauh-jauh datang dari luar Sumut hingga Pulau Jawa hanya untuk ikut even tahunan itu.

Mereka terpukau dengan alam Danau Toba yang begitu eksotis. Hingga petang tercatat lebih 4.000 pengunjung yang datang.

“Ini sungguh di luar ekspektasi kita. Ternyata peserta yang datang belakangan juga banyak,” kata Direktur Festival 1.000 Tenda Kaldera Siparjalang.

Para pengunjung yang datang paling banyak adalah para milenial. Pelajar, mahasiswa dan berbagai komunitas pecinta alam.

Mereka langsung menyemut di lokasi. Memadati setiap sudut lokasi.

Untuk ikut dalam festival, mereka hanya dibebankan Rp20 ribu per orang untuk registrasi. Sebagian biaya itu kata panitia juga diserahkan kepada masyarakat sekitar untuk pengembangan.

“Jadi tahun ini kita coba garap konsep kamping dan berbagi pengetahuan. Kita juga menghadirkan narasumber yang berpengalaman. Jadi ada diskusi dengan wacana kekinian. Pokoknya bagus-bagus dan keren keren,” ungkapnya.

loading...

Meat baru pertama kali ini dijadikan tempat even sekalas 1.000 tenda. Desa Meat sebagai salah satu desa penghasil ulos tenunan memang punya potensi yang cukup besar.

Alam Meat, begitu menakjubkan. Festival 1.000 tenda digelar bertepatan dengan musim panen padi. Pemandangan sawah yang menguning menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung. Sesekali mereka mengabadikan momen di pinggiran sawah.

Selain persawahan, alam Meat juga didukung dengan gugusan bukit yang mengelilinginya. Langsung menghilangkan bosan ketika kita memandang sekeliling.

Festival 1.000 tenda mencoba mengkolaborasikan berbagai konsep dalam event itu. Mereka juga mempromosikan budaya masyarakat setempat.

Peserta diajak untuk memanen padi. Tak sekadar memanen, penyelenggara juga memberikan pemahaman soal kultur memanen padi dalam adat Batak.

“Kita juga mengajarkan peserta soal memanen padi. Misalnya ada mandege, manabi untuk memotong tanaman padi,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan Meat dipilih sebagai lokasi acara. Selain bentang alam yang eksotis, penyelenggara juga ingin potensi ini menjadi pembangkit perekonomian masyarakat.

“Supaya masyarakat mendapatkan dampaknya. Banyak tempat bagus tapi tidak ada orang. Disini ada masyarakatnya dan tempatnya bagus. Jadi harus memberikan efek domino kepada masyarakatnya,” ungkap Parjalang.

Wakil Bupati Toba Samosir, Hulman Sitorus mengakui pihaknya masih memiliki banyak kekurangan dalam pengembangan pariwisata. Khususnya dalam hal sarana dan prasarana. Namun dia terkejut, karena peserta Featival 1.000 tenda membludak.

“Saya sendiri sangat terkejut. Karena ini yang pertama, tentu masih banyak kekurangan. Ini bukan acara yang diinisiasi pemerintah. Dan tidak membebebani pemerintah,” ujarnya.

Pemkab tampaknya belum melirik Meat dengan berbagai potensinya. Wakil Bupati pun belum bisa menjanjikan akan membangun sarana dan prasarana di sana. Dia malah menyerahkan soal pembangunan pada otonomi desa. Pembangunan bakal dibebankan pada dana desa.

“Desa ini otonominya kuat. Kita akan latih masyarakat menjadi sadar wisata,” ujarnya.

Pun begitu dia ingin potensi wisata Meat berdampak pasa masyarakat. Meski pun tidak dalam waktu singkat.

Dalam beberapa tahun ke belakang, Meat menjadi target pengembangan pariwisata oleh Kementerian Pariwisata. Masyarakat diberikan pelatihan soal sadar wisata.

Sebuah Home Stay dengan konsep rumah adat pun sudah teraedia di sana. Kemenpar memberikan sejumlah fasilitas di sana.(rel)

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah