Cari

Sharing Persiapan Dan Tatacara 7 Bulanan Atau Mambosuri Dalam Keluarga Batak

Posted 22-05-2017 00:27  » Team Tobatabo
Foto Caption: Kehamilan 7 Bulan

3 tahun menunggu masa kehamilan membuat saya sangat antusias untuk menjalani masa kehamilan ini. Setelah Suami yang sangat perhatian dan cenderung sangat protektif selama hamil, orangtua saya dan mertua pun ikut memberi perhatian lebih.

Termasuk perhatian mereka untuk mengadakan acara 7 bulanan secara adat untuk kami berdua. Saya dan suami berasal dari suku Batak.

Walaupun kami berdua sejak kecil sudah merantau keluar dari pulau Sumatera, tetapi orang tua kami selalu memasukkan unsur budaya batak dalam pergaulan sehari-hari dan tidak lupa mengajarkan adat batak kepada kami berdua.

Meskipun kami belum begitu mahir tentang adat batak, tetapi saya dan Mon sepakat untuk melaksanakan acara 7 bulanan secara adat batak.

Selama mempersiapkan acara tersebut, kami berdua pun sibuk untuk mengenal lebih jauh mengenai syukuran 7 bulanan dengan adat batak atau dikenal dengan istilah manaruho aek ni utte atau mangalehon ulos mula gabe.
Dimana pihak orang tua perempuan datang untuk membawakan makanan dan memberikan Mula Gabe agar nantinya proses kelahiran dapat berjalan lancar. Disebut istilah ulos mula gabe karena keluarga sedang menantikan hagabeon yang artinya kelahiran anak pertama.
Jadi seorang ibu menerima ulos Mula Gabe ini hanya satu kali dalam hidupnya.

Beberapa persiapan yang kami lakukan:

1. Menghubungi orang tua kami berdua, mengatur jadwal untuk datang dari Jakarta (orangtua saya) dan dari Bandung (orangtua Mon) ke rumah kami di kota Duri.
Akhirnya, dengan  kesibukan orangtua masing-masing, akhirnya mereka dapat hadir 3 hari sebelum acara 7 bulanan, dimana usia kandungan saya sudah memasuki minggu ke-30 (almost 8 months pregnancy)
2. Mempersiapkan Undangan
Persiapan dimulai dengan membuat undangan kepada keluarga pihak perempuan dan pihak laki-laki. Saya dan Mon ikut sibuk untuk mengundang kerabat dari keluarga kami masing-masing dan juga beberapa teman persekutuan di lingkungan Duri.
Kami juga mengundang pihak gereja untuk mempersiapkan acara kebaktian pengucapan syukur di acara tersebut. Total 50 undangan yang kami buat untuk acara ini.
3. Mempersiapkan konsumsi
Dengan bantuan informasi dari salah seorang teman saya, akhirnya saya berhasil untuk memesan makanan di salah satu catering batak di daerah tempat kami tinggal.
4. Mempersiapkan kostum yang appropriate, serta make up dan hair-do
Sebulan sebelum acara, saya menjahitkan baju kebaya dengan penjahit baju langganan saya. Kebetulan saya pernah membelikan seragam yang serupa untuk saya, mama saya dan ibu mertua saya.
Dan kami memakai seragam bernuansa biru untuk acara syukuran ini. Untuk hair do saya memesan salon yang biasa dipakai oleh ibu-ibu batak ketika menghadiri pesta adat.
Sedangkan tampilan di hari H saya memilih untuk melakukan make up sendiri karena tidak butuh make up yang berat supaya tampil fresh di acara tersebut. 
Tibalah saat yang dinantikan…
Keluarga besar pihak perempuan (hula-hula) datang untuk menjenguk saya (anak perempuannya) dan suami saya (menantu). Pihak parhata (pembicara) dari masing-masing marga (Nainggolan – saya dan Simanjuntak – suami) yang memimpin prosesi adat yang berlangsung.

Acara dimulai dengan ibadah/kebaktian pengucapan syukur singkat yang dipimpin oleh penatua Gereja, dimana semua yang hadir datang untuk bernyanyi dan mendengarkan Firman Tuhan serta mendokan agar Tuhan memberkati kandungan saya dan menyertai proses kelahiran kelak.

Setelah acara ibadah selesai, tibalah saatnya orang tua saya menyampaikan Ulos Mula Gabe ke bahu boru (saya) dan hela (suami saya), dan juga meletakkan beras sipir ni tondi ke atas kepala boru dan helanya tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan beberapa pihak keluarga perempuan yang juga menyampaikan ulos untuk kami berdua.

Lalu disusul dengan acara makan bersama, dimana sebelumnya hulahula(orangtua saya) memberikan boru dan helanya makanan khusus yang berupa ikan mas, disebut dengan dengke sitiotio, dengke simudurmudur.

Dengan harapan dari orang tuanya kiranya Tuhan berkenan memberkati Boru dan Helanya, agar tiotio haroan (persalinan) yang akan datang dan agar mereka berdua seia sekata dalam perjalanan hidup mereka (mudurudur).

Selanjutnya, acara makan bersama dimulai dengan didahului oleh doa. Setelah acara makan selesai, kemudian tibalah saatnya untuk mengucapkan kata-kata nasehat (mandok hatta) dari para tamu yang hadir. Ucapan selamat dan nasehat pertama kali diucapkan oleh perwakilan pihak keluarga perempuan (Nainggolan) dan disusul mandok hatta dari kedua orangtua saya.

Moment haru pun terjadi saat mama saya menyampaikan unek-uneknya dan perasaan bahagianya atas kehamilan saya ini.

Saya pun ikut larut dalam moment haru ini sampai meneteskan air mata. Lalu dilanjutkan dengan acara mandok hatta dari pihak keluarga laki-laki (Simanjuntak) dan sebagai penutup, saya dan suami serta mertua perempuan dan laki-laki ikut menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua keluarga.

Khususnya orang tua yang begitu luar biasanya mendukung dan mendoakan kami berdua selama ini, serta meminta support doa agar proses kelahiran baby JJ kelak berjalan dengan lancar.

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah