Cari
 Narasi
 Diposting 06-12-2018 17:07

Sindiran Pedas buat Ferdinand Hutahaean dari Saudara Sekampungnya

Foto Caption: Ferdinand Hutahaean dalam aksi reuni 212 (2/12/2018) di Monas

Semakin ke sini, semakin aneh saja tingkah serta berbagai pernyataan yang disampaikan oleh para pendukung dan tim pemenangan Prabowo-Sandi. Tidak adanya prestasi Prabowo, serta gagasan yang mereka tawarkan kepada masyarakat jika Prabowo kelak terpilih jadi presiden, membuat mereka kerap kali bicara ngasal dan ngawur.

Sebutlah Ferdinand Hutahaean, Ketua Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat itu, tidak kalah “sadisnya” dengan Fadli Zon, Fahri Hamzah, atau Dahnil Anzar Simanjuntak dalam menyampaikan nyinyirannya terhadap pemerintahan Jokowi. Bagi Ferdinand, apa pun yang dikerjakan oleh Jokowi, selalu saja salah di matanya.

Politikus berdarah Batak itu seperti sedang kehilangan akal sehatnya. Pikirannya seperti sudah tidak lagi waras. Ia kerap seperti sedang berhalusinasi, memikirkan sesuatu yang sesungguhnya bersumber dari pikiran kotornya yang sama sekali tidak mungkin terjadi, atau keberedaannya tidak dapat ia buktikan.

Saban hari, timelinenya dipenuhi nyinyiran, hujatan, sindiran, cemoohan, dan caci-maki, kepada Presiden Jokowi. Hampir seluruh cuitannya isinya menyerang Jokowi. Saya benar-benar bingung, apa kesalahan yang diperbuat Jokowi kepadanya sehingga ia begitu gencarnya menyudutkan presiden Indonesia ketujuh itu.

Atas berbagai pernyataan dan cuitan kontroversial Ferdinand Hutahaean itu, salah seorang saudaranya dari kampung bernama Fredi Lumban Gaol, menulis sebuah status di akun facebooknya berupa sindiran pedas atas keangkuhan dan “kegilaan” Ferdinand selama ini. Bersama statusnya itu, Fredi turut mengunggah beberapa foto Ferdinand pada saat menghadiri Reuni 212 Mingu kemarin (2/12).

Berikut saya kutip status Fredi Lumban Gaol tersebut. Saya sengaja mengutip seluruhnya karena menurut saya, tulisannya dengan bahasa Indonesia berdialek Medan itu, keren, lucu, dan ada geli-gelinya. Fredi menuliskan begini:

Horas Lae Ferdinand Hutahaean!

Oh! Lae Ferdinand Hutahaean. Apa kabar di Jakarta Lae, enak tidak tinggal di Jakarta itu lae..?? Pasti enak ya lae? Ohhh Sudah makan tidak lae..?? Aku-nya yang tanda (kenal) lae kalo lae tidak tandalah samaku. Gini laeku karena kulihat nya di TV dan di koran lae Ketua Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat bah. Mantaplah itu lae,jago rupanya lae.

Pasti mobil lae yang mantap itulah ya? Kalo mau naik harus pake remot lah ya lae? Pantasan makin gemuk dan ganteng lae ya...! Sorry dulu lae, aku lupa. Apa kabar keluarga lae? Kan biasalah kita dari kampung lae. Tidak pernah tidak menanyakan keluarga kita lae. Kalau di perantauan ini harus kita ingatlah itu lae. Kan kita sekarang, kita juga-nya besok.

Oh! lae sering tampil di TV itu kan? Dulu pertama melihat lae di TV kukira tidak orang Batak lae karena kalau lae bicara maccam ayam yg mau bertelur yang berkokok kokok. Ehh rupanya orang Batak. Bercanda-nya aku lae. Jangan tersinggung ya lae.

Ohh lae. Kulihat lae ikut ke accara reuni 212 itu ya yang di Tugu Monas itu. Siapanya lae nya si Ahok itu? Ke (Sepertinya) maccam dendam kulihat lae sama dia. Akh sudahlah lae! Masa begitu lagi lae. Lae kan sudah banyak kawan lae.

Teringatnya, lae kalo di kampung agama apa tahe (sih)? Karena tertengokku-nya lae di media, lae ngomong di accara 212 itu. Kejam kali lae akhh. Janganlah gitu kita lae. Kalo gak makan lagi lae di perantauan, kan bisanya pulang kampung kita lae. Jangan jual murah agama lae itu. Akh maccam gak orang Batak lae. Masa ke gitu kita emosi. Orang demo ikut lae demo. Akh sudahlah minum tuak ajalah kita lae.

Lae...lae...laee....! Sedikit lagi lae. Lae tau Pak Jokowi itu kan. Baik kali sama kita. Lae sudah tau gak, kalo ke kampung kita akan ada jalan tol dari Medan ke Danau Toba. Pokoknya tidak kampungan lagi nanti kampung kita itu laeku.

Kalau asal kampung lae dari mana tahe? Masih jauh tidak dari Bandara Sisingamangaraja Silangit yang di Siborong-borong itu? Cieeee pasti tau lae kan? Inilah lae, kan langsung sombong kan. Pulanglah sesekali ke kampung lae, biar makan ombus-ombus kita lae.

Sudah dulu lae ya. Ini kan bulan 12. Nanti kalau pulang kampung lae sampaikan (selamat) hari Natalku sama orang Tulang dan nattulang itu ya lae. Selamat hari natal lae ya..!”

Sungguh sebuah sindiran yang teramat pedas. Bahkan rasa-rasanya lebih pedas dari cabai rawit. Silahkan dinikmati sindiran pedasnya Lae, Ferdinand! Kalau kira-kira tidak sanggup lagi, minum tuak saja dulu! Cocok kaurasa Lae?

Ditulis oleh Hermanto Purba

#01JokowiLagi

Follow my twitter: @PurbaHermanto

Dikutip dari Seword.com
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah